Sabtu, 25 Juni 2011

Serial GJ : Trendsetter


Belum selesai acara arisannya, kelompok yang terdiri dari Mica si lugu, Ayu si polos, Wiwin sok ketua(emg plg tua diantara yg laen), Chelsea yang feminin, Yuki si sensi, Siska paling stylish menghentikan obrolan mereka dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Rega si tomboy yang baru datang (lagi-lagi dia telat).
Bukannya apa, kali ini rega mengenakan jaket baru yang modelnya up to date banget, (singkat aja) soalnya minggu lalu si rega bawa tas selempang buatan korea dan anak sekelas pada niruin gayanya. Sangking sebelnya, alhasil tas itu diberikan ke adiknya yang masih duduk di kelas 3 SD (kebagusan buat anak ingusan, menurutnya)
”Wuih, jaket baru noh” kata yuki tiba-tiba
”Ho’ogh, bagus banget” tambah mica sambil ngurusin ingus di idungnya *peduli amat/amat aja nggak peduli*
”Iih... cute banget, modelnya juga lucu. Beli dimana, Ga?” tanya chelsea
”dikasih tau tanteku baru pulang dari paris. Mang napa, mau?” ujar rega
”WoW, mau mau mauu…” jawab Chelsea
“Beli dong!” kata rega lagi
“Nah, sombong banget lu” kata wiwin yang mulai ngajak ribut
”Eh, dia nanyak ya gue jawab. Lagian taon 2011 gak ada yang gratisan” jawab rega sinis
“udahlah, jangan berantem lagi. Kalo kalian pake emosi berarti kalian udah dihasut sama setan. Kalian juga harus tau kalo amarah itu kaya api, sekali di tiup apinya makin besar, sma kaya..”
”Aduh, Berentiii.. cukup deh ceramahnya. Kita ngerti kok, Yu” sahut siska memotong , yang nggak tahan dgn ocehan ayu.
Tiba- tiba bu Mona, guru yang paling galak seantero sekolah ini masuk kelas dan mengacaukan arisan komplotan cewek tsb.
“Anak-anak sekalian , hari ini kita adakan ulangan, TITIK NGGAK ADA TAPI TAPIAN!!!” teriak bu mona mengumumkan ujian mendadak tersebut tanpa basa-basi..
”Payah payah payah payah!” kata Rega yang tadi malem nggak belajar
”REGA!!” bentak bu mona
”Eh, ya bu?” jawab rega yang kaget setengah mati
”Bilang apa kamu tadi?!” ”Eng... enggak. Saya nggak bilang apa-apa kok bu” ”Bagus!, Sekarang keluarkan kertas ulanganmu! CEPAT!!!” bentaknya galak, kemudian pergi mememeriksa murid lainnya.
”Ampun deh gua. Ya Tuhan.. Tobat tobat, hamba tobat!!” pikir Rega
Sepulang sekolah...
Komplotan cewek tsb terlihat berunding, kecuali rega karena dia udah pulang duluan. Rupanya ke-6 cewek tsb sedang mengurus rencana.
Keesokan harinya..
”ARGHH...!!! KENAPA HARUS DIULANG SIH KEJADIANNYA!!” teriak Rega yang baru duduk dibangkunya
”Kenapa kamu Ga?” tanya imah
”Oh, aku tau pasti gara-gara nilai ulanganmu jeblok ya?” tebak Dika.. Rega hanya geleng-geleng kepala.
”Ban mobilmu bocor yah, kalo gitu bawa aja ke bengkel ayahku. Muarah dan dijamin kualitasnya” tambah redo mempromosikan bengkel milik keluarganya(ga nyambung). Lagi-lagi rega  hanya menggeleng.
”Trus kenapa dong?” tanya imah
Rega hanya cemberut dan tangannya menunjuk ke-6 temannya yang baru masuk melewati pintu kelas dengan memakai jaket yang mirip banget dengan jaket rega.
<HARUSKAH, ADIK REGA MEMPEROLEH JAKET BARU MILIK REGA?>

Kamis, 23 Juni 2011

Serial GJ : Bertemu seorang maho


Sebenarnya ini cerita chelsea, siska & yuki waktu mereka bertiga pergi ke mall. Enggak tau kenapa ujung-ujungnya semua pada ikutan.
Awalnya siska yang ngajukan usul ke semuanya
“Girls, ada yang mau ikut aku nggak? Ntar sore aku mau ke mall buat beli aksesoris model terbaru loh” ujarnya penuh semangat
“aduh, gimana ya? Aku kayaknya nggak bisa deh sis. Sori banget ya” kata rega
“sama kaya  rega deh, aku juga nggak bisa. Gapapa kan?” Tanya mica yang emang males
“gapapa kok, aku kan nggak maksa” jawab siska
“aku belom tau, bingung nih” jawab wiwin
“Aku.. eh, kita ikut!” kata Chelsea dan yuki bersamaan yang emang dasarnya maniac fashion
“oke deh, kamu yu?”
“eng.. gimana ya? Aku bingung mau ikut apa enggak. Sebenarya aku nggak mau ikut tapi takut kamunya marah atau tersinggung. Jadi aku …, ya bingung” jawab ayu masih dengan polosnya
“yaudah deh, nggak usah ikut juga nggak apa-apa”
“Aduh, maaf ya sis. Kamu pasti marah gara- gara aku nggak mau ikut. Plis.. maafin aku, pliss..” kata ayu sambil meratap dengan lebaynya
***
Keesokan harinya, risuh – risuh di deretan bangku tempat mereka bersemayam.
“hah?! Yang bener aja. Gila lo” sahut rega masih nggak percaya
“beneran, sumpah tu cowok keren banget” jawab yuki antusias
“kalian pasti nyesel deh. Gara-gara kemaren nggak ikut kita” tambah Chelsea
“wah,.. jadi pengen tau. Tu cowok kaya gimana” ujar mica sambil menghayal
“Nah, gini aja. Ntar sore kita ke mall bareng-bareng biar nggak pada penasaran, Tuh cowok kan pergi ke mall tiap hari dan seperti cerita siska tadi. Selalu berada di tempat yang sama dan di waktu yang sama. Tul nggak?” usul wiwin dengan mantapnya yang membuat mata mica semakin berbinar- binar untung aja nggak bengkak *nggak kebayang gimana jadinya* sementara rega dan ayu hanya mengangkat bahu.
Rencana pun dimulai..
Sorenya mereka ber-7 pergi ke mall dengan pakaian necis-necis dan baru setengah jalan ada kemacetan lampu lau lintas. Setelah sejam berlalu jalanan pun kembali lancar.
“Aduh, bisa telat nih ketemu ma cowok keren” protes mica dilanjut anggukan siska, Chelsea dan yuki yang sangking ngebetnya pengen ketemu cowok yang sedang dibicarakan.
“bukan acara resmi-resmian kale.., yang kalo telat langsung kena resiko”
“makanya ngebut, neng!” tambah wiwin
“Eh, saya bukan sopir amatiran yang bias disuruh-suruh ya” kata rega nggak terima
“udah dong, kalian jangan rebut terus. Rega kan lagi nyetir, nggak usah di ajak ngomong ntar nggak konsen, terus nabrak lagi. Kita yang rugi kan? Makanya jadi orang yang sabar, abis itu..” belum selesai ayu berkotbah, ke-6 sahabatnya sontak berteriak
“STOOP..!!” dan ayu pun terdiam merunduk. Ceramahnya lancar ditutup dengan ocehan sekawannya
JENDARR!!..
Mobil milik rega berhenti
“Apaan lagi sih?” kata wiwin
“iya, kok berenti sih?” sambung siska
“gagal deh ketemu ma cowok keren” kata mica
Ayu masih diam
“dengerin ya seluruh temanku yang bawel bin rewel!.., mobilku mogok bukan karena apa. Jadi tolong dong, dorongin kalo kalian emang niat banget nge-gaet cowok yang gak jelas asal-usulnya” kata rega emosi sekaligus bangga akan ucapannya barusan.
Mau tidak mau mereka harus memetuhi titah rega. Belum sempat mereka buka pintu mobilnya, yuki berteriak.
“eh, tunggu tunggu tunggu, kayaknya itu cowok yang kemaren aku liat di mall deh” sambil menunjuk salah satu meja yang ada diteras kafe
7 pasang mata pun menyorot tajam memperhatikan makhluk tersempurna yang pernah mereka lihat. Dan dia kini sedang menyeruput secangkir kopi panas di mejanya.
Chelsea, yuki, dan siska tak henti-hentinya memandang cowok itu, mica apa lagi. Matanya tak dapat berkedip sedikitpun (Sedikitpun!). Ayu masih terdiam merunduk menyesali perbuatannya hingga sesegukan (dan hampir mengeluarkan air mata gara-gara dibentak teman-temannya). Rega dan wiwin tak dapat melihat objek yang di fokuskan teman-temannya. Karena jendelanya terhalang tubuh ke-4 teman mereka.
Cowok ganteng bin keren itu terlihat melambaikan  tangan kearah mobil. Chelsea, yuki, siska, dan mica merespon dengan melambaikan tangan mereka.
“pada liat apaan sih?” Tanya rega
“nggak tau, nggak keliatan” jawab wiwin
“Ssst.. jangan berisik” kata Chelsea
“Bisa diem nggak sih, nggak tau apa kalo tuh cowok lagi ngelambaiin tangannya ke aku” sambung yuki
“eh, bukan ke kamu, tapi ke aku” kata siska mulai nyari ribut.
Mica tak mempedulikan mereka semua, matanya kini mulai bengkak dan kering, kemudian merah dan mengeluarkan air mata. Minatnya pada cowok tersebut lebih tinggi daripada kesehatannya sendiri.
Ternyata cowok tersebut melambaikan tangan kepada seorang laki-laki tua kepala 4. Mereka pun bersalaman dan pria tua itu mencium pipi cowok ganteng tersebut dengan mesra, kemudian merangkulnya dan mengajak cowok tersebut ke mobil miliknya.
Ke-4 cewek tersebut saling berpandangan. Kemudian secara berjamaah mengucek-ucek mata mereka, Mica baru merasakan matanya bengkak, Rega dan wiwin masih kebingungan. Dan setelah mereka mengetahui kejadian yang sebenarnya, mereka pun menganga ternganga-nganga. Cowok itu ternyata seorang maho.!!

Minggu, 19 Juni 2011

Rainbow's life

           \


 Sepulang sekolah aku langsung menaiki tangga menuju kamar. “jangan lupa cuci tangan- cuci kaki kalo sudah pulang sekolah” kata mamaku dari lantai bawah. ”aku capek ma!” bentakku kasar diikuti dentuman keras pintu kamar yang kubanting ’BRAAK!!’. Aku sudah membayangkan mamaku yang sedang beristighfar sambil mengelus-eluskan dadanya yang mungkin tidak menyangka seorang zira melakukan hal itu.
            Aku melempar tas selempang warna abu-abuku dan menjatuhkan tubuhku ke kasur kemudian aku melihat layar handphoneku ”NO MESSAGE” ucapku pelan. ’Bagus’ pikirku.

*****

6 bulan yang lalu...
Hari ini pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Sun selaku guru mata pelajaran tersebut menjelaskan tentang tugas bulanan yang nantinya akan diuji praktekkan untuk akhir semester nanti, tugas tersebut adalah membuat karya tulis dalam bentuk skripsi secara berkelompok. Kebetulan aku satu kelomnpok dengan aro dan tiga orang lainnya.
Hm... Aro bukanlah cowok yang mungkin dari namanya terlihat keren. Dia hanya teman baikku yang sifatnya ramah, suka melucu dan pintar.
”.. jadi intinya noer sama aku buat penyusunan dan isi, zira bagian pengetikan dan penyuntinyan akhir, yang cowok bagian antar-jemput dan nanti pulang sekolah kalian kerumahku buat bikin konsepnya.” kata mita menjelaskan tugas kami masing-masing.
Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, sepulang sekolah kami pun pergi kerumah mita. ”kerja dong!” kata mita ”kerja apaan?” balas fardan ”ya bantu bantu gitu kek” sambung noer. Aku dan aro hanya tertawa melihat ketiga teman kami berdebat. ”Haha... Yaudah deh aku sama zira pulang dulu ya guys” pamit aro pada mereka ”aku duluan ya” kataku juga. Karena rumahku dan aro jalannya searah, makanya sekalian aja aku nebeng dia.
”Makasih ya” ujarku setelah turun dari motornya. ”Eh, tunggu,Ra!” cegahnya sembari menarik tangan kananku, aku pun berbalik kearahnya. ”Ada apa?” tanyaku sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya. ”Nggak ada apa-apa, aku cuma mau bilang... Hati-hati ya”jawabnya sambil tersenyum ”Oh, iya tenang aja lagi” kataku sambil mengangguk.
Sore itu setelah aku tidur siang, aku memperoleh sms dari aro.
”Sore, lg ngpain” tumben banget nih anak sms, pikirku
”Sore juga, g lg ngpa2in. Da pa ya?” balasku. Disitulah awal perbincangan kami lewat sms, sejak itu kami berdua keseringan smsan. Mulai dari jam 4 pagi setelah sholat subuh sampai sebelum berangkat sekolah, dilanjut sepulang sekolah sampai malam sebelum tidur.
Sebenarnya hubungan kami hampir seperti ’TTM’. Tetapi aku hanya menganggapnya sebagai teman baikku sekaligus tempat mencurahkan semua perasaanku jika ada masalah atau ketika aku butuh saran.

***
Aku lari terburu- buru memasuki halaman sekolah yang sudah sepi. Itu tandanya aku telah melewati bel pukul 7 dan semua murid sudah masuk ke kelas masing- masing. Kulihat teman- temanku duduk dengan rapi ketika kubuka pintu kelasku, untung aja gurunya belum datang. Yah, kebiasaanku dari zaman baheula masih aja dipelihara, suka telat. Tapi tetep aja aku termasuk murid teladan, nilaiku masih bagus kok.
”ZIRAA! Berapa kali kamu telat?!” kata fidri teman sebangkuku yang miss perfect tapi pengatur dan sok tahu.
”Tenang, Neng. Baru yang ke sembilan juga” jawabku enteng tanpa rasa bersalah
”Yang ke sembilan aja bangga”
”Dari pada aku bolos, mending telat. Ya nggak?”
”Ah! terserah deh, nggak penting juga”
“Yee.. kalo ngga penting mah, ngga usah dibahas” kataku membela.
“Maksudku ada yang lebih penting dari itu..”
“Oh ya, apaan?” selaku agak kaget. Belum sempat fidri membuka mulutnya, Bu Husna menyebut namaku.
”Az-zira devagina adraini” katanya ”ya bu?” jawabku menoleh ke depan ”kerjakan soal nomor 13 dan 20” ”Baik bu” aku memalingkan wajahku sebentar kearah fidri dan berbisik pelan ”ntar janji harus cerita!”
Selesai mengerjakan soal aku berbalik menuju mejaku, sempat kulihat fidri berbicara pada aro yang duduk di belakangnya dan perbincangan tersebut  berakhir ketika aku kembali.
”Pada ngobrol apaan sih?” tanyaku pada mereka
”Nggak ada apa-apa kok, Ra” kata aro ”Iya ra nggak ada apa-apa kok udah deh tenang aja” lanjut fidri ”Kalian pada gitu banget sama aku, aku kan juga sahabat kalian. Kok aku nggak dikasih tau?” ”Zira, udah ya.. udah bel tuh. Aku duluan ya” pamit aro sambil menepuk bahuku
Aku benar benar tidak mengerti dengan kelakuan kedua sahabatku ini. Mereka aneh dan tidak seperti biasanya. Kali ini mereka sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Dan seharian itu aku tak menghiraukan sapaan mereka bahkan sampai mereka menggodaku berkali-kali.
’Zira.. marah ya? Ntar kamu juga bakalan tau sendiri kok’ kata aro di pesan masukku. Tetapi aku tak membalas pesan itu, kemudian aku teringat janji fidri untuk menceritakan hal penting yang dibicarakannya di sekolah tadi.
Aku pun langsung menombol keyboard di handphoneku, mengirim pesan kepada fidri.
’Fid, tadi kamu mau cerita apa?’
Beberapa detik kemudian, datanglah balasan sms dari fidri.
’Oh iya, sori ya ra tdi lupa yang cerita. Abisnya kamu keburu ngambek sih. Kalo gitu ntar sore kamu kerumahku aja biar jelas ceritanya’
Aku melirik jam dinding, masih jam 1 siang. Aku pikir lebih baik aku menyelesaikan tugas karya ilmiah. Setelah itu baru bebas internetan.
Tak lama kemudian..
”Zira.. ayo makan siang dulu sayang. Makanannya sudah siap tuh di meja makan. Nanti keburu dingin lo” kata mamaku tersayang.
”Iya ma.. tunggu sebentar” jawabku dari ruang keluarga
Usai makan siang dengan dengan menu gurame asam manis kesukaanku, aku kembali ke ruang keluarga menamui laptopku.
Tak terasa sudah jam 3 sore. Aku bersiap-siap pergi kerumah fidri. Aku mengenakan kaos warna biru mencolok dan jaket oranye dengan print bergambar pelangi yang menjadi favoritku.
Sesampai disana, aku memarkirkan sepeda fixieku di halaman rumah fidri.
”Cerita disini aja fid” ujarku mengarah ke teras.
”Jadi gini, kamu tau aro kan?” tanya fidri yang sedikit mengagetkanku. Aro? Ada apa dengan aro?
”Kenapa tuh anak? Dia jadian sama kamu? Wah selamat ya.. kalian emang cocok. Nggak nyangka banget kalo ternyata kedekatan kalian selama ini jadi semacam relationship gitu. Kapan traktiran?” tanyaku berambisi disertai senyum sumringah dan ocehan panjang lebarku yang khas sampai fidri tidak kuberi kesempatan untuk menjawab.
”Tenang dulu, Ra. Justru itu yang mau aku kasih tau ke kamu. Dia ngedeketin aku karena dia suka sama kamu” setelah fidri berkata begitu, senyum sumringahku berubah menjadi ekspresi kaget sekaligus bingung. Aku tak bisa berkata apapun kecuali ”Hah?” aku menelan ludah dan melanjutkan perkataanku.
”Aku masih nggak ngerti sama kalimat terakhirmu”
”Jadi gini, biar kamu jelas.” fidri memelankan suaranya ”Dia ngedeketin aku Cuma pengen tau tentang kamu. Hobimu, Kesukaanmu, pokoknya semua tentang kamu Ra”
Aku masih diam merenungkan perkataan fidri barusan.
”... nggak jarang kamu lihat aku sama aro bicara berdua, makanya jangan salah paham dulu, Cuma gara- gara kita nggak mau cerita ke kamu. Dan karena itu aro minta tolong aku buat ngedeketin kamu. Aku Cuma…”
“STOP!” kataku memotong kalimat fidri, fidri terdiam menghentikan ocehannya
“Kamu bercanda kan Fid? Biar aku ke-GRan. Ya ampun fidri lelucon kamu bagus banget. Aku aja hampir percaya gara- gara ngedengerin omong kosong itu”
”Aku nggak bercanda Ra. Aku serius. Kalo kamu nggak percaya, liat aja handphoneku” katanya sambil menyodorkan HPnya padaku.
Aku melihat semua pesan masuk dari aro di handphone fidri. Aku tidak menyangka bahwa semua yang diceritakan fidri itu benar. Aku membaca semua curhatan aro pada fidri tentang aku.
”Tunggu dulu!” kataku tiba- tiba memecahkan keheningan.
”Nggak mungkin, ini semua pasti rekayasa kalian buat ngerjain aku, ya kan?” ujarku masih tidak percaya dengan semua ini.
”Zira, ini bukan rekayasa. Percaya deh sama aku. Aku Cuma..”
“Denger ya Fid! Aro tuh cocoknya sama kamu. Karena kamu tau semua hal tentang dia dibanding aku. Aku pulang dulu ya fid. Assalamu’alaikum” pamitku agak sinis.
”Walaikumsalam. Tunggu Ra, aku cuma...”
Aku tak menghiraukan panggilan fidri. Aku langsung mengambil sepeda fixieku dan segera pulang ke rumah.

***

Malam harinya, ketika sedang asyik belajar. Aku kembali teringat cerita fidri tadi sore, kemudian aku merenungkan kejadian- kejadian sebelumnya bersama aro. Aku masih ingat kejadian tempo hari lalu saat dia mengantarkan aku pulang dari rumah mita.
Tiba- tiba ada sebuah perasaan yang muncul ketika aku mengucapkan kata ”Aro morandy dene” secara tidak sadar. Aku menghela nafas panjang dan sedikit terisak.
Ada apa denganku? Jangan- jangan aku... Nggak mungkin! Nggak mungkin aku suka sama aro, dia kan sahabatku. Nggak mungkin aku suka sama sahabatku sendiri. Sadar zira! Sadar!

***

Ketika jam istirahat tiba aku mengajak deya untuk pergi ke kantin. Setelah membeli jus tutti frutti, aku dan deya kembali ke kelas masing- masing. Kalian perlu tahu kalau aku dan deya bersahabat dari SD yang alhamdulillah sampai sekarang masih satu sekolah denganku, meskipun beda kelas tapi persahabatan kami tetap awet.
Belum sampai kedalam kelas aku melihat melalui jendela, aro duduk di bangku fidri. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, aku malah berbalik menuju kelas deya dengan terburu- buru dan ada rasa cemburu dihatiku. Aku mempercepat lagkah kakiku dan setelah menemui deya, aku langsung menceritakan semua kejadian dari awal.
”Udahlah Ra, Aro bukan siapa- siapa kamu kan. Ngapain kamu sampai kayak gini. Setiap hari kamu akan semakin tertekan dan semakin kecewa dan kayaknya kamu mulai suka sama aro.” kata deya menasehatiku.
”Kayaknya kamu bener De, aku emang mulai suka sama aro. Semenjak fidri kasih tau aku soal itu. Dan katanya, fidri bakalan bantuin aro buat ngedeketin aku. Jujur ya, aku seneng banget setelah fidri bilang gitu. Tapi nyatanya...”
”Malah fidri yang deket sama aro?” ujar deya menebak lanjutan kalimatku.
”Kamu bener De, makasih ya udah jadi temen curhat aku. Yaudah kalo gitu aku balik ke kelas dulu ya” pamitku pada deya yang hanya menjawabnya dengan mengangguk.
Setiap hari, setiap jam istirahat aku pergi ke kelas deya untuk menghindar dari aro dan fidri. Yah, menghindar dari rasa sakit yang teramat sangat karena hubungan kedua sahabatku itu semakin hari semakin dekat bahkan sangat dekat.
”Kamu dari mana aja sih Ra? Kenapa nggak balik lagi ke kelas?” tanya noer ketika aku sudah kembali.
Aku ingin mengatakan ”Aku habis ngehindar dari orang munafik yang bikin aku sakit hati” tapi yang keluar dari mulutku adalah ”Aku habis jalan- jalan keliling sekolah” jawabku salah tingkah sambil menunggu reaksi mereka. Aro dan fidri hanya memperhatikan tingkah lakuku yang aneh, mita dan fardan hanya bisa meng-OH-kan saja, dan noer hanya mengangguk.
Langsung aja ya, semakin hari tingkah laku aro makin terlihat mencolok kalau dia memperhatikan aku dikelas. Bahkan teman-teman sekelas sering mengolok-olok kami berdua, dan semenjak itu aku dan aro jarang berbicara dan bertatap muka apalagi setelah tugas karya ilmiah itu selesai.
Sore harinya aku kembali mendapat pesan dari aro yang intinya dia nembak aku lewat sms. Tapi sebelumnya aku masih berpikir panjang. Apa jadinya kalo pacaran sekelas, sama sahabat sendiri lagi. Trus gimana sama fidri setelah kedekatan mereka selama ini? Dan akhirnya aku menerimanya menjadi pacarku.
’Ok, aku mau’ balasku singkat
Tak terasa sudah 4 bulan kami jadian, hubungan kami pun baik-baik saja hingga suatu hari aku melihat aro sedang duduk bermesraan berdua dengan fidri dikelas yang kosong. Seketika itu juga aku tak dapat membendung air mataku dan bergegas pulang kerumah.
Aku tidak tahan lagi setelah mengetahui bahwa aro selingkuh dan yang lebih menyakitkan lagi sahabatku sendiri menusukku dari belakang. Fidri adalah musuh dibalik selimut, seharusnya aku tahu dari awal soal ini.
Aku pulang dengan membawa emosi bahkan tega-teganya aku membentak ibuku sendiri sepulang dari tempat itu. Padahal beliau tidak bersalah.

*****

Aku masih berada di atas kasur dan air mataku menetes membasahi bantalku. Ah! Bodohnya aku. Aku segera menghapus air mataku dan menemui mamaku di lantai bawah.
”Ma, maafin zira ya ma. Tadi zira nggak maksud bentak mama. Tadi zira emosi” pintaku pada mama.
”Zira, udah nggak apa-apa kok. Mama udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf sama mama” jawab mamaku masih penuh dengan kasih sayang.
”Makasih ma, zira sayang banget sama mama” ujarku sambil mencium pipi beliau.
Ketika aku kembali ke kamarku, kulihat layar handphoneku menyala. Ternyata ada 1 pesan dari aro.
”Bunda sayang...” katanya tanpa rasa bersalah yang masih menggunakan kata sayang kami berdua. Bunda? Emang aku emakmu apa? Aku membiarkan pesan itu tergelar di layar handphoneku.

***

Yah, semester ini banyak sekali cerita. Aku lulus dengan nilai memuaskan dan kedua orang tuaku bangga akan kabar gembira ini. Nilai karya tulis ilmiahku B+ dan aku sudah putus dengan aro, masa bodo dengan fidri dan yang paling penting aku tidak lupa untuk selalu bersyukur.
Hidup ini penuh warna. Yeah, this life is like colours of rainbow. My life always be a rainbow’s life

Polyvore